BeritaAl Syukro UniversalSyahrial Gazali: "Ikuti Kaidah Pembuatan Soal Pilihan Ganda"

Syahrial Gazali: "Ikuti Kaidah Pembuatan Soal Pilihan Ganda"


    Menyusul Pelatihan tentang Pemberian Nilai Ujian Praktikum yang telah diselenggarakan pada Jum’at (3/4) kemarin, maka pada Senin, 6 April 2009 bertempat di aula SMP Islam Al Syukro, para guru SD dan SMP Islam Al Syukro kembali menjalani pelatihan. Kali ini, training yang dilakukan bertema Pembuatan Soal Pilihan Ganda dengan menampilkan instruktur Drs H Syahrial Gazali MPd, selaku Pejabat Sementara (Pjs) Kepala Sekolah SD dan SMP Islam Al Syukro yang juga merangkap sebagai Koordinator Bidang Pendidikan Yayasan Wakaf Daar Asykaril ‘Ibaad (YADA’I).
 Berikut kutipan wawancara dengan Pak Syahrial mengenai pelatihan tersebut:

* * *
 Fokus materi pelatihan ini tentang apa?
    Lebih kepada bagaimana cara membuat soal ujian, yang harus disesuaikan dengan aturan penulisan soal. Mulai dari bagaimana bahasanya, aturan menulis soalnya, tingkat kemudahannya, pilihan (option) jawabannya, dan sebagainya.

Bagaimana misalnya contoh untuk soal pilihan ganda?
    Jadi kalau di SD dan SMP ada empat pilihan (option) jawaban. Nah, dalam membuat soal dengan empat pilihan jawaban ini memiliki syarat khusus, misalnya, panjang pilihan jawaban harus sama antara pilihan a, b, c dan d. Tidak boleh ada pilihan jawaban yang pendek kalimatnya misalnya cukup dengan dua kata, sementara pilihan jawaban yang lain justru ditulis dengan kalimat panjang.

Syarat membuat pilihan jawaban yang lain apa?
    Jawabannya harus acak. Tidak boleh guru menempatkan pilihan jawaban secara berurut, misalnya, soal nomor 1 jawabannya ‘a’, soal nomor 2 jawabannya ‘b’, soal nomor 3 jawabannya ‘c’, soal nomor 4 jawabannya ‘d’. Yang demikian tidak boleh. Tidak boleh berpola seperti itu, jadi harus diacak (jawabannya). Sehingga para siswa tidak akan dapat menebak-nebak jawabannya.
Memang, kalau guru menempatkan jawabannya secara berpola, maka dengan cara menghafal, guru yang bersangkutan dapat mudah mengoreksi jawaban siswa. Tapi, resikonya adalah kalau para siswa sampai tahu polanya, maka mereka akan merasa tidak perlu untuk belajar lagi. Disinilah, kenapa jawaban atas soal pilihan ganda tidak boleh berpola.
    Dalam menentukan jawaban soal pilihan ganda pun ada aturan yang berkaitan dengan berapa jumlah maksimum dan minimum untuk jawaban ‘a’, ‘b’, ‘c’, dan ‘d’, dalam satu paket soal ujian. Khusus mengenai masalah ini, ada rumus yang berlaku, yakni ‘Jumlah Soal’ dibagi ‘Jumlah Option’ plus minus ‘Tiga’. Misalnya, jumlah soal mencapai 40 soal, dengan jumlah pilihan (option) jawabannya adalah 4 (terdiri dari pilihan ‘a’, ‘b’, ‘c’, ‘d’). Maka, penjabaran rumus yang diberlakukan untuk mencapai jumlah jawaban soal adalah 40:4+3=13. Artinya, jumlah jawaban untuk salah satu pilihan  (dalam soal pilihan ganda) adalah maksimal berjumlah 13. Selebihnya, tinggal dibagi rata, meski tidak boleh ada yang jumlah jawaban pilihan gandanya hanya berjumlah 6 saja.

Untuk apa rumusan demikian diberlakukan?
    Ini sebagai upaya antisipasi, seandainya ada siswa yang hanya menjawab dengan cara menebak pilihan ‘a’ semua untuk seluruh soal, atau untuk ke-40 soal yang diujikan. Dengan begitu, jawaban yang ‘a’ semua itu, belum tentu benar semua, dan juga belum tentu salah semua. Mungkin saja, ada tebakan jawaban siswa yang justru benar. Jadi kemungkinannya hanya tinggal beberapa persen saja tingkat kebenarannya. Paling-paling jawaban yang benar hanya 13 saja, karena maksimal jumlah jawaban ‘a’ adalah memang berjumlah 13.

Dalam hal menentukan empat pilihan (option) jawaban, aturannya bagaimana?
    Memang diharapkan bahwa keempat option jawaban itu (dapat saja) dipilih oleh para siswa karena memang hampir ada kebenarannya, meski jawaban yang benar harus tetap salah satu saja dari empat pilihan yang disediakan. Sebaliknya, bila ada option jawaban yang tidak dipilih oleh para siswa, maka dapat dikatakan bahwa keempat option jawaban yang dibuat oleh guru (dalam soal tersebut) tidak bagus kualitasnya.
    Tegasnya, satu dari empat pilihan adalah jawaban yang paling benar. Sedangkan tiga dari empat pilihan jawaban adalah mendekati kebenaran. Artinya, ada saja siswa yang memilih jawaban ‘a’, ‘b’, ‘c’ atau pun juga ‘d’, karena memang seluruh pilihan jawaban yang disodorkan mendekati kebenaran (dari yang paling benar), meski hanya ada satu saja jawaban yang benar. 

 Kalau kalimat untuk soalnya sendiri bagaimana aturannya?
    Dalam hal ini, guru harus sudah dapat menentukan terlebih dahulu, kalimat soalnya ini akan dibuat dalam bentuk pertanyaan, atau bentuk pernyataan. Kalau bentuknya pertanyaan, pada akhir soal harus diberi tanda tanya (question mark). Tapi, bila soalnya dalam bentuk pernyataan, maka pada akhir soalnya diberi titik-titik sebanyak empat titik.

Setelah mengetahui hal-hal tersebut, apa sarannya kepada para guru?
    Supaya kaidah-kaidah yang sudah saya sampaikan diikuti dulu, dan mereka coba praktekkan. Setelah itu, nanti kita evaluasi lagi.  (fdl)